
Cara Menyikat Gigi yang Benar Menurut Dokter Gigi (Teknik Bass)
drkstraightsmile – Pernahkah Anda merasa sudah menjadi “warga negara yang baik” bagi kesehatan mulut sendiri? Anda rajin menyikat gigi dua kali sehari—pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Bahkan, Anda menggunakan pasta gigi mahal yang iklannya menjanjikan senyum seputih mutiara. Akan tetapi, saat jadwal kontrol ke dokter gigi tiba, dokter tetap saja memberikan vonis: “Ada karang gigi menumpuk di sini,” atau yang lebih parah, “Wah, ada lubang baru di geraham belakang.”
Rasanya pasti menyebalkan dan membingungkan. “Kurang rajin apa saya, Dok?” mungkin itu jeritan batin Anda.
Jujur saja, kita sering terjebak dalam ilusi kebersihan. Kita menganggap bahwa menyikat gigi adalah tentang seberapa keras kita menggosok atau seberapa banyak busa yang dihasilkan. Padahal, dalam dunia kedokteran gigi, bukan kekuatan otot yang menjadi tolok ukur, melainkan presisi teknik. Jika selama ini Anda hanya menggesek sikat ke kiri dan ke kanan dengan semangat 45, Anda mungkin justru sedang merusak gusi, bukan membersihkannya.
Oleh karena itu, kunci dari kesehatan mulut yang optimal bukanlah pada merek sikat giginya, melainkan pada teknik menyikat gigi yang Anda terapkan. Mari kita berkenalan dengan metode yang para dokter gigi sebut sebagai “Gold Standard” di seluruh dunia: Teknik Bass.
1. Mitos “Menggosok Lantai”: Mengapa Lebih Keras Bukan Berarti Lebih Bersih
Mari kita luruskan satu kesalahpahaman terbesar umat manusia soal sikat gigi. Banyak orang memperlakukan gigi mereka seperti sedang menyikat lantai kamar mandi yang berkerak: menggosok sekuat tenaga dengan gerakan horizontal (kiri-kanan) yang panjang.
Dalam istilah medis, para ahli menyebut ini sebagai scrubbing method. Tahukah Anda? Cara ini sebenarnya adalah musuh dalam selimut. Alih-alih membersihkan, gerakan horizontal yang keras justru mendorong gusi naik (resesi gusi), membuat akar gigi terbuka, dan menyebabkan gigi sensitif. Lebih buruk lagi, gerakan ini sering kali gagal menjangkau sela-sela gigi tempat bakteri berpesta pora.
Enamel melapisi gigi kita sebagai zat terkeras dalam tubuh manusia, namun gusi kita adalah jaringan lunak yang manja. Teknik menyikat gigi yang agresif akan menyebabkan abrasi—terkikisnya lapisan pelindung gigi di dekat perbatasan gusi. Jadi, jika bulu sikat gigi Anda sudah mekar berantakan hanya dalam waktu dua minggu, itu bukan tanda Anda rajin, melainkan tanda Anda sedang menyiksa gigi sendiri.
2. Mengenal Teknik Bass: Membersihkan Sampai ke “Kantong Rahasia”
Lalu, bagaimana cara yang benar? Pada tahun 1940-an, seorang dokter bernama Dr. Charles C. Bass memperkenalkan sebuah metode revolusioner yang kini kita kenal sebagai Bass Method. Filosofinya sederhana: Plak bakteri tidak hanya menempel di permukaan gigi, tapi bersembunyi di dalam sulcus gusi (celah kecil antara gigi dan gusi).
Bayangkan sela antara gigi dan gusi Anda seperti sebuah parit kecil. Sisa makanan dan bakteri Streptococcus mutans (penyebab gigi berlubang) suka sekali berkemah di dalam parit tersebut. Teknik menggosok biasa hanya membersihkan “atap”-nya saja, tapi membiarkan paritnya tetap kotor.
Dr. Bass merancang teknik ini khusus untuk menyapu bakteri keluar dari parit gusi tersebut tanpa melukai jaringan lunak. Inilah alasan mengapa teknik ini sangat efektif mencegah radang gusi (gingivitis) dan periodontitis, penyakit yang bisa membuat gigi Anda goyang dan tanggal sebelum waktunya.
3. Sudut Kemiringan 45 Derajat adalah Koentji
Inilah langkah teknis yang membedakan amatir dan profesional. Saat memegang sikat gigi, jangan tempelkan bulu sikat tegak lurus (90 derajat) terhadap permukaan gigi. Itu salah.
Sebaiknya, posisikan bulu sikat membentuk sudut 45 derajat mengarah ke gusi. Ya, target utama kita adalah pertemuan antara gigi dan gusi. Dengan sudut ini, ujung bulu sikat bisa masuk sedikit ke dalam saku gusi tadi.
Ketika Anda mempraktikkan teknik menyikat gigi ini, rasanya mungkin agak aneh di awal. Bulu sikat akan terasa menggelitik gusi Anda. Itu normal. Pastikan Anda tidak menekan terlalu keras; cukup tempelkan dengan lembut seolah Anda sedang memijat gusi, bukan mengamplasnya.
4. Getarkan, Jangan Gesek: Seni “Jiggle and Sweep”
Setelah mengunci posisi 45 derajat, apa yang harus Anda lakukan selanjutnya? Jangan lakukan gerakan maju-mundur yang panjang seperti menggergaji kayu.
Lakukanlah gerakan getar pendek-pendek (short vibratory strokes). Gerakkan sikat gigi maju-mundur hanya sejarak setengah gigi atau getarkan di tempat (disebut jiggle). Tujuannya adalah untuk merontokkan plak yang membandel di sela gusi. Hitunglah sekitar 10-20 getaran per area (biasanya mencakup 2-3 gigi sekaligus).
Setelah menggetarkannya, lakukan gerakan menyapu (sweep) ke arah permukaan kunyah gigi (menjauhi gusi). Gerakan sapuan ini berfungsi membuang kotoran yang sudah “rontok” tadi agar keluar dari mulut. Jadi rumusnya: Miringkan 45 derajat -> Getarkan pendek -> Sapu ke bawah/atas. Ulangi pola ini ke seluruh bagian luar gigi.
5. Tantangan Gigi Depan Bagian Dalam
Bagian depan gigi seringkali bersih kinclong karena mudah kita jangkau dan lihat di cermin. Namun, “sisi gelap” gigi kita—yaitu bagian dalam gigi depan atas dan bawah—seringkali menjadi ladang karang gigi. Mengapa? Karena bentuk lengkung rahang membuat sikat gigi sulit masuk dalam posisi horizontal.
Untuk area ini, ubah posisi sikat gigi menjadi vertikal (tegak). Gunakan ujung kepala sikat (bagian paling atas) untuk membersihkan gigi satu per satu dengan gerakan naik-turun yang lembut.
Seringkali, saat dokter gigi melakukan scaling (pembersihan karang gigi), area belakang gigi seri bawah inilah yang paling banyak “panen” karang gigi. Ini terjadi karena di area bawah lidah terdapat kelenjar ludah yang mempercepat mineralisasi plak menjadi karang gigi jika Anda tidak menyapunya bersih setiap hari dengan teknik menyikat gigi yang tepat.
6. Durasi dan Disiplin Waktu: Aturan “2 Menit” yang Sering Diwacana
Berapa lama rata-rata orang menyikat gigi? Riset menunjukkan kebanyakan orang hanya menghabiskan waktu 45 detik. Padahal, rekomendasi medis global menyarankan 2 menit penuh.
Mengapa harus 2 menit? Karena mulut kita memiliki banyak permukaan. Jika Anda membagi mulut menjadi 4 kuadran (atas kanan, atas kiri, bawah kanan, bawah kiri), setiap kuadran membutuhkan waktu 30 detik agar Anda bisa menerapkan Teknik Bass dengan sempurna pada setiap gigi.
Cobalah memutar satu lagu favorit Anda yang berdurasi sekitar 2-3 menit saat menyikat gigi. Jangan berhenti menyikat sebelum lagu mencapai chorus terakhir. Percayalah, 2 menit akan terasa sangat lama jika Anda tidak terbiasa, tetapi itulah harga yang harus Anda bayar untuk senyum sehat di masa tua.
7. Memilih Senjata yang Tepat: Sikat Bulu Lembut (Soft)
Untuk menjalankan Teknik Bass dengan sukses, Anda wajib menggunakan sikat gigi berbulu lembut (soft). Hindari sikat gigi berlabel medium apalagi hard, kecuali dokter gigi Anda menyarankannya untuk membersihkan gigi palsu.
Menggunakan sikat bulu keras dengan teknik yang menyasar gusi hanya akan menyebabkan cedera dan pendarahan. Sebaliknya, sikat soft atau ultra-soft cukup fleksibel untuk masuk ke sela gusi tanpa melukainya. Selain itu, pastikan kepala sikat cukup kecil untuk menjangkau gigi geraham bungsu yang letaknya di ujung dunia mulut Anda.
Jangan lupa mengganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali, atau lebih cepat jika bulunya sudah mekar. Sikat gigi yang mekar tidak akan efektif membersihkan plak, malah akan melukai gusi Anda.
Menyikat gigi adalah aktivitas yang tampaknya sepele, namun dampaknya sangat vital bagi kualitas hidup kita. Bayangkan betapa nikmatnya masa tua nanti jika Anda masih bisa mengunyah rendang atau keripik dengan gigi asli yang kuat, tanpa harus repot dengan gigi palsu.
Mulai malam ini, cobalah ubah kebiasaan autopilot Anda. Berdirilah di depan cermin, pegang sikat gigi seperti memegang pena, miringkan 45 derajat, dan mulailah bergetar lembut. Terapkan teknik menyikat gigi metode Bass ini dengan sabar. Awalnya mungkin terasa canggung dan memakan waktu, tapi gusi dan gigi Anda akan berterima kasih seumur hidup. Ingat, sikatlah dengan “otak”, bukan dengan “otot”.